Ahad, 22 April 2018
Sabtu, 31 Mac 2018
“Mimpi Belaka”
“Mimpi
Belaka”
Karya
Muhammad Galang Irnanda (Galang Koko)
70x60
cm
Mix
media pada kanvas
2014
Lukisan berjudul “ Mimpi Belaka” ini merupakan karya
seniman muda Muhammad Galang Irnanda, atau sering disapa dengan nama Galang
Koko. Karya ini dibuat pada tahun 2014 dengan ukuran 70x60 cm, menggunakan mix
media yang terdiri atas cat minyak dan gambar cetak pada kanvas. Lukisan tersebut menampilkan subject matter
seorang manusia. Unsur warna pada subject matter menggunakan warna ungu muda
dan tua. Pada background, terdapat warna putih, merah tua, merah muda, jingga,
biru tua, biru muda, hijau kekuningan, coklat tua, coklat muda, kuning, dan
hitam.
Karya
lukisan “Mimpi Belaka” ini merupakan salah satu karya yang dipamerkan dalam
pameran bertajuk “Pekan Wisper Kreatif” yang diselenggarakan di gedung Wisma
Perdamaian, Semarang. Terdapat unsur seni rupa yang lain pada lukisan tersebut
yaitu berupa garis dan tekstur. Jenis
garis yang terdapat pada subject matter adalah garis lengkung atau tak
beraturan pada subjek manusia, garis tipis putus-putus dan garis-garis semu
yang tercipta akibat dari pertemuan antara dua warna atau lebih pada
background. Sedangkan tekstur yang digunakan dalam lukisan ini adalah tekstur
kasar/tak rata pada background dan tekstur halus pada subject matter. Lukisan
ini mempunyai keseimbangan asimetri, dan juga terdapat irama yang dinamis.
Dari
segi teknik pembuatan, lukisan ini digarap dengan teknik kolas (menempel) dan sapuan kuasa pada kanvas. Maksudnya,
seniman mengambil gambar print out (gambar cetak) yang dipotong mengikuti pola
gambar lalu ditempelkan pada kanvas. Kemudian pada tepi gambar diberi warna
sehingga tidak terlihat gambar cetak yang tertempel pada kanvas. Background
dibuat dengan teknik sapuan kuasa secara ekspresif dengan permainan warna
analogus yang dicampur dengan warna putih sehingga menghasilkan warna-warna
yang soft. Warna pada background dibuat dengan sapuan warna yang tebal denga
sedikit minyak/pengencer sehingga tercipta tekstur yang kasar.
Teknik
tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang baru. Banyak pelukis-pelukis di
Semarang yang menggunakan teknik tersebut. Selama ini Galang Koko selalu
melakukan eksplorasi media dan teknik. Karya terdahulu Galang Koko selalu
menggunakan media cat akrilik pada kanvas dan kayu dengan gaya ekspresif.
Merasa tidak cocok dengan media tersebut Galang Koko mencuba untuk menggunakan
media cat minyak dengan tenik sapuan kuasa yang halus dan menghasilkan karya
yang realistik dan surealistik. Tak cukup puas dengan hal itu dia melakukan
eksplorasi media dengan teknik mix media, iaitu mencampurkan beberapa media
untuk melukis. Banyak karya Galang koko yang menggunakan teknik mix media dan
teknik kolas antara cat minyak dan berbagai macam media yang ada di sekitarnya
misalnya berupa kayu, seng, ranting pohon, peralatan rumah tangga, sampah daur
ulang ,yang nantinya akan di tempilkan pada kanvas. Hal ini dilakukan galang
koko sebagai upaya untuk pencarian jati dirinya dalam berkarya seni lukis
mengingat dirinya adalah seorang seniman muda.
Subject
matter dalam lukisan ini iaitu seorang laki-laki yang terlihat dari belakang
,hanya memakai celana pendek dan berambut panjang. Dengan posisi dalam keadaan
duduk dengan kepala yang menunduk. Terlihat seseorang yang sedang merenung,
gelisah, dan bingung. Seperti sedang memikirkan atau menginginkan suatu hal.
Perwujudan sosok seorang laki-laki berambut panjang ini merupakan sosok diri
Galang Koko sendiri. Dalam lukisan ini Galang Koko ingin memperlihatkan seorang
pemalas yang mempunyai banyak harapan. Ia ingin merespons keadaan di sekitarnya,
bahawa banyak orang yang mempunyai mimpi untuk melakukan/memperoleh suatu hal,
tapi tidak ada suatu tindakan yang ia lakukan. Sehingga hal itu hanya menjadi sebatas
mimpi dan omong kosong belaka. Ini
merupakan ungkapan perasaan yang dia alami sendiri. Yang menyebabkan muncul
suatu perasaan bingung dan gelisah. Perasaan itu diungkapkan pada subject matter yang diberi warna ungu
muda dan ungu tua. Warna ungu mengandung makna kegelisahan, murung dan
menyerah.
Harapan/mimpi
dalam lukisan di representasikan dengan background dengan corak abstrak. Karena
pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak, namun diyakini bahkan
terkadang di batin dan dijadikan sugesti agar terwujud. Namun ada kalanya
harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Harapan adalah bentuk dasar dari
kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian
akan berbuah kebaikan di waktu yang akan datang. Pada praktiknya banyak orang mencuba
menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berdoa atau berusaha. Terdapat
warna putih dominan yang keluar dari kepala sosok manusia tersebut,
melambangkan sebuah harapan yang datang dari fikiran seseorang. Dalam lukisan ini
terdapat juga tulisan-tulisan yang berisikan harapan-harapan yang
diinginkannya. Berkenaan dengan itu semua sehingga muncullah sebuah judul
“Mimpi Belaka”. Kata “mimpi” di sini merupakan pengganti dari kata “harapan”.
Mimpi tidak hanya terjadi saat orang sedang tidur saja, tapi mimpi mempunyai
beberapa macam jenis yang salah satunya adalah mimpi sebagai harapan. Dan kata
“Belaka” mempunyai makna ”hanya atau sebatas”.
Lukisan
yang berjudul “Mimpi Belaka” ini mempunyai nilai estetik yang cukup tinggi. Dilihat dari peletakan subject
matter di bagian bawah dan menyisakan ruang kosong yang cukup banyak, dan diisi
dengan pemberian warna-warna soft. Sehingga mengarahkan mata appreciator/pengamat
kepada subject matter atau sosok manusia, sebagai point of interest. Judul yang
diambil sangat relevan dengan konteks lukisan tersebut. Lukisan ini mengandung
pesan sosial yang sangat baik, iaitu jika kita memiliki sebuah mimpi atau
harapan hendaknya diraih dengan suatu tindakan yang pasti, agar harapan itu
dapat tercapai. Bukan hanya berharap namun tidak ada tindakan apa pun. Dalam
lukisan ini terdapat juga kekurangan iaitu penulisan harapan-harapan yang
kurang jelas untuk dibaca. Dan perwujudan seseorang yang mempunyai harapan
tanpa tindakan belum dapat ditangkap oleh appreciator/ pengamat. Appreciator akan lebih menafsirkan sosok
tersebut sedang meratapi nasib akan suatu musibah yang ditimpanya. Dilihat dari
teknik dan media yang digunakan karya lukis ini bergaya kontemporari. Dapat dipengaruhi
bahawa lukisan ini merupakan lukisan yang cukup bagus karena mengandung pesan
yang baik untuk disampaikan kepada masyarakat namun kurang komunikatif dalam
penyampaian pesannya.
Monalisa
Kritikan
Teori

Tajuk
karya : Monalisa
Pengkarya:
Leornardo Da Vinci
Seni
adalah sesuatu yang indah. Pancaran keindahan itu terlihat dalam bahasa, puisi,
nyanyian dan dendangan, lukisan dan ukiran, kreativiti kraf tangan, silat dan
pencak. Indahnya seni menjadikan ia disukai kerana ada unsur harmoni dan
syahdu, yang menyebabkan hati menjadi terhibur, perasaan menjadi terusik,
lahirnya apresiasi, ada nilai estetika dan timbul rasa halus dan memberikan
kepuasan rohaniah yang tinggi. Menerusi karya monalisa yang merupakan karya
agung dunia. Banyak kritikan yang dijalankan menerusi kajian yang dilakukan. Ada
pelukis dan penulis berpendapat, potret Monalisa tidak mampu disaingi mana-mana
potret sehingga kini. Senyuman, lirikan mata dan raut wajahnya menyembunyikan
pelbagai perkara yang banyak pengertian. Demikianlah tingginya pujian diberikan
kepada Monalisa yang dihasilkan oleh pelukis Leonardo Da Vinci, pelukis Itali
yang hidup dalam kurun ke-15 Masihi. Takrif keindahan ialah tafsiran pelukis
terhadap modelnya yang duduk di depannya itu untuk dilukis. Pelukis Leonardo da
Vinci mengambil masa 5 tahun untuk menyiapkan potret tersebut, dari tahun
1500-1504 dengan tujuan untuk merakamkan konsep kejelitaan yang dikongsi oleh
masyarakat Itali pada zaman Renaissance. Ada ahli sejarah seni atau art
historian mentafsir potret itu sebagai usaha Leonardo untuk mengimbas wajah ibu
yang dia tidak kenal. Sebagai anak luar nikah Leonardo telah dipisahkan dari
ibunya sejak dia kecil lagi. Semua watak-watak wanita yang dilukisnya mempunyai
ciri keayuan ini sebagai tanda betapa rindunya Leonardo kepada ibu kandungnya
itu.
Oleh
itu, seni mempunyai kehidupannya yang tersendiri dengan kaedahnya yang
tersendiri juga. Perkembangan demi perkembangan itu banyak bergantung kepada
struktur dalaman. Ia menentukan kegiatan seni itu boleh berkembang. Gagasan perubahan
ini tidak terbatas kepada lukisan dan catan sahaja, tetapi juga berlaku kepada
semua bidang seni yang lain. Ia juga merupakan persoalan utama bagi amalan
menghayati karya itu sendiri. Penekanan yang diberikan terhadap perkaitan atau
hubungannya akan wujud pada keseluruhan karya seni itu. Analisis seni dari
structuralism sama seperti amalan analisis ilmu lain. Pembicaraan yang agak
sedikit tentang individu atau benda, tetapi lebih menekankan kaitan di antara
perkataan dan bahasa tampak, di antara bahan dengan bahantara, konvensi atau
unsur dan antara makna atau isi. Kaitan yang rapat di sini ialah di sebalik
jalinan yang tidak terlihat dan tersorok yang membolehkan pelukis melukis dan
penghayat menghayati serta pengkritik sebagai penilainya pula. Pendekatan
seperti ini juga boleh dianggap sebagai analisis sinkronik.
Ramai
pelukis dan penulis mengatakan bahawa senyum Monalisa yang cantik dan menawan,
lebih-lebih lagi apabila dipandang dan ditenung lama-lama. Kata mereka senyuman
Monalisa bagaikan senyuman orang hidup. Lirik matanya bagaikan hidup dan
menawan kalbu. Jika ada orang yang menidakkan kecantikan potret Monalisa, maka
dikatakan orang itu buta seni, tidak tahu menilai seni lukis. Demikian pujian
yang sering diberikan peminat seni lukis dan penulis terhadap potret Monalisa
sejak beratus-ratus tahun lalu. Pujian itu tidak kurang juga diberikan penulis
dan pelukis tanah air kita ini. Bahkan ada pelukis dan penulis kita yang
menganggap potret Monalisa sebagai karya seni yang agung, bermutu tinggi dan tiada
bandingannya. Oleh kerana potret itu begitu terkenal, ada orang mengambil
kesempatan mencetak dengan banyak dan acap kali dijual sebagai barang hiasan.
Mereka menjadikan potret Monalisa sebagai barang dagangan. Begitu juga oleh
kerana begitu taksub dan kagum, ada yang meletakkan potret Monalisa dalam
bingkai gambar yang cantik dan mahal untuk dijadikan hiasan dalam rumah, sama
ada di dalam bilik tetamu ataupun di bilik tidur. Ada yang sanggup membelinya
dengan harga yang mahal walaupun mereka tahu lukisan itu tiruan atau fotokopi,
bukan yang asal.
Potret
Monalisa kini diletakkan di dalam muzium di negara kelahiran pelukisnya sendiri
di Itali. Ia dijaga rapi dan diinsuranskan pula dengan jutaan ringgit. Oleh
sebab itulah harga potret Monalisa kian hari kian tinggi, mungkin mencecah
hingga berpuluh-puluh juta ringgit. Oleh itu, faktor penting yang boleh
dianggap merangkumi keseluruhan kegiatan kritikan seni ialah faktor
strukturalisme. Hal ini dapat menjeniskan situasi bagaimana mendedahkan tema
dan konsep dalam sesuatu karya seni itu. Analogi yang dapat difahami di sini
ialah konsep penceritaan bahasa seni dari keseluruhannya. Ia memungkinkan
timbulnya pelukisan dan pertuturan dari bahantara seni dan senimannya.
Monalisa
asalnya adalah dari nama orang yang benar-benar wujud. Dia lahir dan dibesarkan
di sebuah bandar kecil bernama Florentine, Milan, Itali. Bandar ini terletak di
kawasan berbukit-bukau dengan kegiatan ekonomi utamanya ketika itu ialah
pertanian dan ternakan. Beberapa tahun yang lepas, seorang profesor mendakwa
dia menemui nota yang ditulis seorang pelukis terkenal, yang menyatakan bahawa
potret Monalisa adalah hasil lukisan model terkenal bernama Isabela Gualandi,
yang lahir dan dibesarkan di Naples, Itali pada tahun 1491. Isabela Gualandi dikatakan
mempunyai hubungan dengan Giuilano de Medici saudara kandung Pope Leo ke-X.
Pendapat lain pula mengatakan bahawa Monalisa adalah isteri kedua saudagar
Zanobi de Gloconda. Ada kemungkinan Zanobi de Gloconda ini dari kalangan orang
Islam dengan berpandukan dua sebab. Pertama, nama Zanobi sendiri adalah seiras
dengan nama orang Islam yang ramai terdapat di Itali, sama ada zaman Monalisa
masih hidup, mahupun pada masa sekarang yang kebanyakannya sebagai ahli
perniagaan. Kekuatan pemerintahan Islam di kawasan berkenaan pada zaman itu
memang tidak dapat dinafikan. Keagungan Empayar Othmaniyah yang berpusat di
Turki, berkembang hingga ke Balkan dan sekitar Itali serta di Sepanyol amat
terserlah.
Kemungkinan
kedua, Zanobi dikatakan beragama Islam, kerana Monalisa ialah isteri keduanya.
Amalan beristeri lebih daripada seorang (poligami) berlaku di kalangan orang
Islam kerana Islam sajalah yang membenarkan umatnya berpoligami. Zanobi de
Glocondo menjemput Leonardo Da Vinci untuk melukis isteri keduanya itu yang
dianggap perempuan tercantik di dunia pada zamannya. Ketika Leonardo belum
terkenal sebagai pelukis, dia hanya pelukis amatur yang mendapat upah melukis
secara kecil-kecilan. Hasil lukisannya dijual untuk menampung keperluan
hidupnya yang tidak seberapa. Leonardo juga menjual lukisannya di kaki lima
kedai kepada berminat.
Zanobi
de Glocondo dan isterinya ketika itu sedang bersenang-senang di tempat
peranginan di kaki pergunungan yang menjadi latar belakang potret Monalisa itu.
Dia melihat Leonardo sedang melukis sesuatu, lantas dia meminta dilukis potret
isterinya itu. Lukisan potret Monalisa yang asal berukuran kira-kira 36 inci
tinggi dan 20 inci lebar itu memperlihatkan keseluruhan muka, dengan rambut
terurai menutupi sebahagian bahunya. Lehernya yang jinjang nampak jelas dengan
sebahagian dadanya terbuka. Sesungguhnya gambar ini amat berlawanan dengan
nilai dan tradisi bukan sahaja masyarakat Islam, tetapi juga masyarakat
Kristian pada masa itu yang masih kuat berpegang dengan nilai moral yang
tinggi. Kebanyakan mereka berpakaian menutup aurat. Pada ketika itu semua
wanita baik Islam mehupun bukan Islam, tidak berani mendedahkan aurat termasuk
rambut. Kini terdapat beberapa pelukis nakal cuba mengubah imej potret Monalisa
dengan pelbagai wajah. Misalnya Graham Dean mengubah lukisan Monalisa yang asal
dengan cara: Monalisa dilukis dan digambarkan dengan berbadan tikus, Monalisa
berbadan gorilla dan lain-lain haiwan. Terdapat juga Monalisa memakai seluar
‘Jean’ ketat dan ada potret Monalisa yang digambarkan dengan kaki terkangkang.
Antara yang paling menarik ialah potret Monalisa dengan misai Hitler-tokoh
orang yang paling kejam dan ganas dalam dunia menurut pandangan Barat. Di
samping itu, terdapat juga ahli perniagaan yang mengeksploitasi wajah dan nama
Monalisa untuk melariskan barang jualan mereka seperti minyak wangi, seluar
jean dan bedak Bagaimanapun, mengapakah sehingga kini potret Monalisa begitu
dikagumi manusia? Adakah dia wanita tercantik pada zaman itu jika dibandingkan
dengan wanita lain? Atau banyak agenda yang perlu kita gali untuk mencari
rahsia sebenarnya?
Perasaan
untuk merasa keindahan itu adalah keinginan manusia yang semula jadi, sama
seperti keinginan untuk merasa selamat, keinginan untuk berumah tangga,
keinginan untuk menjadi ibu atau bapa. Setiap budaya menyediakan kaedah supaya
orang dapat berkongsi sama pengalaman ketepikan tersebut, yakni, pengalaman
merasa nikmat, indah, seronok, ceria. Kesemua perasaan yang positif ini memang
boleh dirasai secara naluri, yang memerlukan rangsangan berupa bunyi-bunyian,
lukisan warna dan kehalusan bahasa. Perasaan keindahan ini adalah satu hal yang
luas bidangnya sehingga agak suka untuk memberi kata putus tentang keindahan.
Orang perseorangan atau individu selalu berbeza dalam mengira apakah yang indah.
Mesti ada consensus atau pendapat umum yang mengesahkan sesuatu bentuk itu
indah atau tidak.
Langgan:
Catatan (Atom)


